5/21/2009

TERTARIKNYA IKAN PADA CAHAYA


Cahaya yang mencapai permukaan bumi dan permukaan perairan terdiri dari cahaya langsung (direct) dan cahaya yang disebarkan (diffuse). Menurut Effendi (2003) bahwa cahaya langsung berasal dari matahari dan cahaya yang disebarkan awan,yang sebenarnya berasal pula dari cahaya matahari.

Jumlah radiasi yang mencapai permukaan perairan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu awan, musim, keadaan atmosfer, letak geografis dan attitude (ketinggian dari permukaan laut). Penetrasi cahaya yang masuk ke perairan dipengaruhi oleh intensitas dan sudut datang cahaya, kondisi permukaan air dan bahan-bahan terlarut dan tersuspensi di dalam air. Jenis molekul H2O, O2, O3 dan CO2 dapat menyerap radiasi matahari sehingga dapat mengubahnya menjadi energi panas. Menurut Wetzel (1975) bahwa perairan alami, penetrasi cahaya sekitar 53% masuk ke perairan dan mengalami perubahan menjadi panas dan pada kedalaman satu meter dari permukaan sudah mulai berubah serta menghilang (extinction).

Intensitas cahaya yang masuk ke kolom air semakin berkurang dengan bertambahnya kedalaman. Artinya, cahaya mengalami penghilangan (extinction) maupun pengurangan (atenuasi) yang semakin besar dengan bertambahnya kedalaman.

Cahaya yang diabsorpsi menghasilkan panas yang sangat penting bagi proses-proses hidup. Sifat-sifat panas air dan hubungan-hubungan yang terjadi merupakan faktor yang sangat penting dalam mempertahankan air sebagai suatu lingkungan hidup yang cocok.

Cahaya matahari merupakan sumber bagi semua jasad yang berada di perairan. Gejala radiasi beserta akibat-akibatnya secara tidak langsung mempengaruhi hampir semua fase kejadian biologis maupun bukan biologis. Misalnya pada ikan, cahaya sangat mempengaruhi tingkah lakunya, fisiologinya maupun sampai pada migrasi harian.

Respon ikan pada cahaya melalui mata dan organ pineal yang berada pada bagian atas otak. Kebanyakan ikan, mata merupakan reseptor penglihatan yang sempurna. Sistem optik mata ikan bekerja mengumpulkan cahaya dan membentuk suatu fokus bayangan untuk di analisis oleh retina. Sedangkan sensitivitas dan ketajaman mata bergantung pada terangnya bayangan yang mencapai retina.

Sifat beberapa spesies ikan terhadap cahaya ada yang fototaksis dan lainnya fotophobi. Laevastus dan Hayes (1981) menyatakan bahwa pada spesies pemburu memerlukan cahaya untuk melokalisasi mangsa dan pemangsaan terjadi pada intensitas cahaya yang relatif rendah, seperti pagi dan sore hari. Selanjutnya stimulus cahaya juga berperan dalam mempengaruhi migrasi harian dan tingkah laku kelompok pada kebanyakan spesies.

Fotoreseptor pada retina mata menyerap energi cahaya dan menyalurkannya ke sistem saraf dalam bentuk energi elektrikal. Terdapat dua jenis fotoreseptor yaitu cone (sel kerucut) dan rod (sel batang).

Eckert dkk. (1998) menerangkan bahwa terdapat tiga macam pigmen dalam cone yang peka secara selektif terhadap berbagai warna seperti warna merah, hijau dan biru yang berturut disebut eritrilabe, klorolabe dan sianolabe. Selanjutnya sifat-sifat absorpsi pigmen di dalam cone untuk ikan mas (goldfish) memperlihatkan puncak absorpsi berturut-turut pada panjang gelombang spektrum 625 nm, 530 nm dan 455 nm. Untuk ikan pada umumnya merasakan cahaya pada interval 400-750 nm tergantung dari adaptasi mula-mula oleh mata terhadap cahaya. Ditambahkan oleh Pagalai (1986) bahwa ikan sudah mulai merasakan rangsangan cahaya pada kekuatan 0,001 lux.

Sinar biru dengan panjang gelombang pendek sedikit diabsopsi dan sangat cocok untuk mengumpulkan ikan-ikan dari daerah yang luas dan lebih dalam. Sedangkan warna merah mempunyai panjang gelombang cahaya lebih pendek dari warna biru, oleh sebab itu sinar-sinar merah hanya menembus kolom air dekat permukaan sehingga ikan-ikan terkonsentrasi di permukaan (Ayodhya, 1976).

Dengan demikian cahaya dan segala aspeknya seperti intensitas, sudut penyebaran, polarisasi, panjang gelombang, arah, musim, lama penyinaran dan komposisi spektrum akan mempengaruhi secara langsung dan tidak langsung tingkah laku ikan serta proses fisiologinya.

Referensi

1. Ayodhya. 1976. Fishing Methods. Bagian Penangkapan Ikan. Fakultas Perikanan. IPB. Bogor.

2. Eckert, R., Randell, D and Augutine, G. 1998. Animal Physiology Mechanisme and Adaptations. W.H Fremen and Company. New York.

3. Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air. Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Kanisius (Anggota IKAPI). Yogyakarta.

4. Laevastus, T dan Hayes, M.L. 1981. Fisheries Oceanografi and Ecology. Fishing News Books. Ltd. Farnham, Surrey, England.

5. Pagalay, B. 1986. Perbandingan Hasil Tangkapan Bagan (Light Fishing) yang Menggunakan Beberapa Warna Cahaya di Perairan Lero Pinrang, Sulawesi Selatan. Karya Ilmiah. Fakultas Perikanan IPB. Bogor.

6. Wetzel, R. G. 1975. Limnology. W.B. Saunders Co. Philadelphia, Pennsylvania.

5/01/2009

Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Teknis Pertanian Beririgasi

Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Teknis Pertanian Beririgasi saat ini:

Kebijakan

- Peningkatan produksi pertanian
- Kebijakan dalam perluasan areal tanam
- Pelaksanaan program BIMAS Padi di daerah irigasi
Subsidi O & P Irigasi
- Penguatan Kelompok Tani dalam BIMAS dan panitia irigasi

Strategi

- Pengembangan P3A
- Pengembangan sistem irigasi tersier dan irigasi pedesaan
- Penguatan kelompok tani
- Peningkatan koordinasi dan penguatan,serta sinkronisasi kerja antara panitia irigasi dan panitia BIMAS

Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Teknis Pertanian Beririgasi Masa Datang :

Kebijakan

- Meningkatkan dan mengembangkan ketahanan pangan masyarakat (pedesaan)
- Peningkatan pendapatan petani dan kesejahteraan
- Peningkatan cropping intensity dan cropping pattern (efisiensi penggunaan air di sawah)
- Pengembangan usaha tani terpadu pada lahan beririgasi
- Pengembangan usaha diversifikasi dan intensifikasi pada lahan beririgasi

Strategi

Usaha keterpaduan, kebersamaan dan partisipasi penuh dalam sistem optimasi pendapatan dan kesejahteraan petani dan keluarganya.
 
 
Copyright © Green Blue Phinisi
Theme by BloggerThemes