Tampilkan postingan dengan label Technology. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Technology. Tampilkan semua postingan

10/30/2009

SALINITAS OPTIMUM UNTUK KELANGSUNGAN HIDUP DAN PERTUMBUHAN UDANG VANNAMEI

ABSTRAK

Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui salinitas optimum terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva udang vannamei (Litopenaeus vannamei). Hewan uji yang digunakan adalah larva udang vannamei fase nauplius. Wadah yang digunakan adalah akuarium kaca berukuran panjang, lebar dan tinggi masing-masing 50 x 35 x 35 cm sebanyak 12 buah, yang diisi air laut 40 L dan masing-masing dilengkapi dengan peralatan aerasi.

Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan setiap perlakuan memiliki tiga ulangan. Perlakuan yang dicobakan adalah pengaruh salinitas media, yaitu 28 ppt, 30 ppt, 32 ppt dan 34 ppt. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis ragam. Oleh karena hasilnya memperlihatkan pengaruh yang sangat nyata maka dilanjutkan dengan uji Tukey. Untuk mengetahui keeratan hubungan sebagai respon perlakuan digunakan teknik regresi korelasi, sedangkan salinitas optimum diprediksi dengan menurunkan persamaan regresi.

Hasil analisis ragam memperlihatkan bahwa salinitas berpengaruh sangat nyata (p < 0,01) terhadap Tingkat Kelangsungan Hidup (TKH) dan Laju Pertumbuhan Bobot Spesifik Harian (LPBSH) larva udang vannamei(L. vannamei). TKH larva udang vannamei tertinggi dihasilkan pada salinitas 30 dan 32 ppt yakni 38,67% dan terendah pada salinitas 28 ppt yakni 2,33%. LPBSH larva udang vannamei tertinggi dihasilkan pada salinitas 32 ppt yakni 27,14% dan terendah pada 28, 30 dan 34 ppt yaitu 25,34; 25,57 dan 25,34%.
Hubungan antara salinitas dan TKH larva udang vannamei berpola kuadratik menghasilkan persamaan regresi Y = - 4044,6 + 262,96x - 4,2292x2 (r2 = 0,97). Sedangkan hubungan antara salinitas dan LPBSH berpola kubik dengan persamaan regresi Y = 2801,2 - 274,2x + 8,9996x2 - 0,0981x3 (r2 = 0,96). Berdasarkan persamaan tersebut dapat diprediksi bahwa salinitas optimum untuk menghasilkan TKH dan LPBSH maksimal masing-masing berada pada salinitas 31,08 dan 31,02 ppt.

8/12/2009

SUBTITUSI MINYAK JARAK KE PETRODISEL



Pada dasarnya, negara Indonesia masih tergantung dengan penggunaan bahan bakar yang berasal dari minyak bumi dan energi fosil, dimana sumber tersebut merupakan energi tak terbaharui sehingga ketersediannya kadang tidak menentu. Hal tersebut akan berdampak pada kegiatan ekonomi negara, khusunya di sektor transportasi dan penggunaan tenaga mesin untuk produksi.

Selain itu, krisis ekonomi yang melanda masyarakat dunia mendesak berbagai negara untuk menggali dan memanfaatkan potensi lokal agar dapat menyelamatkan perekonomian negaranya, agar tidak terlalu larut terbawa krisis ekonomi global.

Indonesia sebagai konsumen pengguna bahan bakar minyak harus lebih intensif untuk mengeksplorasi sumber-sumber energi altenatif yang arahnya mendukung kegiatan produksi, sehingga dapat mengurangi ketergantungannya dari minyak bumi dan energi fosil.

Tanaman jarak pagar (Jatropha curcas) merupakan komoditi nonpangan sebagai sumber energi terbaharukan (Renewable energy). Minyak nabati dari jarak pagar dapat diolah menjadi bahan bakar pengganti atau subtitusi minyak bumi dan energi fosil, seperti solar, minyak tanah dan minyak bakar.

Pada tahun 2006 pemerintah menetapkan bahwa akan dimulai pemanfaatan jarak pagar sebagai subtitusi solar dan singkong sebagai subtitusi premium. Kedua komoditas ini diharapkan dapat menggantikan 10% pemakaian solar dan 10% pemakaian premium (Kompas, 17 Oktober 2005).

Pengolahan Biodiesel

Sebenarnya penggunaan minyak nabati (biodiesel) sudah dimulai sejak tahun 1898, ketika Rudolf Diesel menciptakan mesin diesel. Ia menggunakan minyak nabati dari kacang tanah (Arachis hipogaea) sebagai bahan bakar mesin dieselnya.

Minyak jarak alami yang biasa disebut Crude Jatropha Curcas Oil (CJCO) dibuat dari daging buah (kernel) Jatropha curcas. Para peneliti menyebut minyak jarak alami dengan nama Straight Jatropha Oil (SJO), Unmodified Vegetable Oil (UVO) atau Straight Jatropha Oil (SJO).

Ekastraksi minyak dari biji jarak pagar dapat menggunakan alat pengepres atau pemerah yang digerakkan dengan tangan manusia maupun mesin. Indonesia yang letak geografisnya terdiri dari beberapa pulau sebaiknya direkomendasikan menggunakan alat pemerah yang dibuat dengan teknologi sederhana. Alasannya, agar alat ini bisa diaplikasikan sendiri oleh masyarakat sebagai program kemandirian agroindustri sehingga dapat meningkatkan independensi suplai bahan bakar karena diproduksi secara lokal. Demikian pula dengan pemeliharaan/budidaya Jatropha curcas.

Emisi Biodiesel

Hampir semua komponen bahan kimia yang ada dalam biodiesel rendah jika dibandingkan dengan petrodiesel (solar). Terkadang biodiesel tidak mengandung senyawa SO2, walaupun ada nilainya relatif kecil (< 15 ppm). Begitupun dengan karbonmonoksida (CO) yang dihasilkan cukup rendah.

Menurut beberapa referensi Belerang merupakan pemicu emisi SPM (Solid Particulate Matter) dan asap hitam. Partikel SPM bersifat karsiogenik atau bahan pemicu sel kanker. Mesin kendaraan yang menggunakan solar menghasilkan emisi SPM lebih banyak jika dibandingkan dengan biodiesel, sehingga biodiesel dapat dikatakan sebagai bahan bakar ramah lingkungan. Selain itu, biodiesel juga ramah terhadap mesin, khususnya pada piston karena memiliki pelumasan.

Pemanfaatan Minyak Jarak sebagai Subtitusi Solar

Pemanfaatan minyak jarak pagar (CJCO) sebagai subtitusi solar (petrodiesel) dapat menekan alokasi anggaran pembelian minyak bumi dan energi fosil. Disamping itu, subtitusi tersebut dapat mengurangi emisi yang dihasilkan oleh solar, seperti SO2, CO, NO2, Benzen dan bahan kimia toksik lainnya.

Dalam pengembangan pengelolaan minyak jarak pagar harus lebih serius, sehingga volume subtitusinya ke petrodiesel dapat mencapai 50% (50% biodiesel : 50% petrodiesel). Seperti yang dikemukakan pada paragraf sebelumnya bahwa untuk mencapai target 50% dibutuhkan produksi secara lokal minyak jarak. Produksi minyak jarak dilakukan dibeberapa daerah dengan menggunakan alat produksi yang dibuat secara sederhana agar dapat diaplikasikan sendiri oleh masyarakat. Peranan pemerintah dalam hal ini sangat membantu dalam pengadaan alat produksi sederhana tersebut.

Produksi minyak jarak perlu dipandang penting, karena akan sangat membantu para konsumen bahan bakar diberbagai sektor ekonomi, baik sektor transportasi, pertanian, perikanan, industri pengolahannya dan lain sebagainya. Dari usaha subtitusi tersebut akan membuahkan hasil bahwa kebutuhan bahan pokok untuk masyarakat dapat terpenuhi dengan harga yang relatif murah.

Jadi dibutuhkan peran maupun kebijakan pemerintah yang lebih serius dalam upaya pencapaian memaksimalkan subtitusi biodiesel ke petrodiesel, agar harga bahan bakar lebih terjangkau dan lebih ke arah ramah lingkungan. Selain itu kesiapan dan partisipasi masyarakat juga dibutukan dalam hal penyediaan bahan baku (buah jarak pagar) dan keterampilan dalam proses ekstraksi minyak jarak.

7/31/2009

PROCEDURES AND MECHANISM CLONING

The etimologis, said the cloning comes from the Greek word "clone" means the discount that is used to propagate plants. While the terminologis, cloning is the process of making a large number of cells or molecules are identical with the whole cell or molecular origin.

In the field of genetic cloning is a segment of DNA replication without going through the process of sexual (Rekombinasi DNA). This process opens new opportunities in breakthrough technology to change the function and behavior of living beings in accordance with the wishes and needs of men.

Theoretically cloning procedures and mechanisms of living beings through the four (4) stage of the DNA fragment isolation, DNA fragment inserts into the vectors, transformation and selection of cloning.

1) Isolation DNA fragments
Isolation of specific DNA fragments can be done with the method of PCR (polymerase chain reaction) technique, namely amplikasi DNA fragments that are specific in vitro. In general, the DNA used for PCR is the total DNA extracted from the genom of the cell and does not require a high level of purity. DNA sequence that specifically amplication determined by the primary-primary composed of nukleotida. (1)

Materials needed for the process of PCR is a DNA sequence that contains a series that will be (DNA duplication), namely primary, and DNA polimerase mixture of four different deoksiribonukleotida-trifosfat (dATP, dCTP, dGTP and dTTP), and MgCl2.

2) Insertion DNA fragments into vectors
The process of interpolation or continuation molecular DNA fragments with the DNA molecule called a vector ligasi. Ligasi usually occurs between the ends of the truss with the truss hidroksil phosphate. Ligasi between DNA fragments that have the end of the sticky (cohesive ends), which is much more complementary efesien compared with the end of the blunt (blunt ends). Ligasi efficiency is also influenced by the single on the tip of the deoksiadenosin. Ligasi efficiency can be improved, if the DNA fragment that has a single deoksiadenosin at the end of the meeting with the vectors that have timidin on the edge.

3) DNA Transformation
Transformation is the process of transfer of donor DNA molecules from the environment outside the cell. Cloning vector which is the bearer of genes akan dikloning ditransformasi to cells in the wet nurse. Transformation can be either natural or artificial. In the process of natural transformation, the DNA strand ganda shaped and has a string of basa specific membrane proteins into the bacteria through bacterial cell membrane terhidrolisis. In the artificial transformation, bacterial cells into cells made competent by force so that the shroud is permeabel bacterial cells and allows DNA to cells with ties and into sitoplasma, and interact with the genom of bacterial cells. (3)

Competent cells are cells that have a wet nurse competency Entry vectors for cloning. Treatment competent to enter the cells can be made using the method of heat shock (heat shock) or free electric shocks (electroporation method). (2)

4) Selection of cloning
Penyeleksian bacterial colony cloning to obtain the desired way with X-gal or cutting with a restriction enzyme. Selection with X-gal can be used to identify plasmid rekombinan with komplementasi. While cutting with restriction enzyme can be used to select plasmid cloning rekombinan results. Results are dielektroforesis cutting the ribbon and insert DNA fragments that separate from the cloning vector band. (4)

In the application level, the process sequence cloning can be done with the follow the following steps:
1. Preparing for the stem cells, the cells will start to grow into different body cells. Cells obtained from this organism that would dikloning.
2. Stem cells taken selnya nucleus containing the genetic information and then separated from the cells.
3. Preparing egg cells, a cell taken from the adult organism and essentially separated.
4. Nucleus cells from stem cells diimplimentasikan to egg cells.
5. Triggered so that the egg cell division and growth occurs. After a split embryo.
6. Embryo cells that continue to split (blastosis) began to separate themselves and ready to be implemented in the womb.
7. Fetus in the womb grow a fetus with the genetic code exactly the same as the stem cell donor. (5)

Reading List
1. Simbolon, H. Biology Jilid 3. Jakarta, Erlangga Publishers, 1994).
2. Sambrook et al. Molecular Cloning: A Laboratory Manual. New York, CSHL Press, 1989).
3. Stainer et al. The Microbial World. New Jersey, Prentice-Hall, 1986).
4. Seno D.S and E.D. Purwakusumah. Production by L-iisin Genetic Engineering Strain Results. Research Report on FMIPA UI 1995 (not published).
5. Quoted from http://strategis.ic.gc.ca/SSG/tc00026e.html.

PROSEDUR DAN MEKANISME KLONING


Secara etimologis, kata kloning berasal dari bahasa Yunani "klon" artinya potongan yang digunakan untuk memperbanyak tanaman. Sedangkan secara terminologis, kloning adalah proses pembuatan sejumlah besar sel atau molekul yang seluruhnya identik dengan sel atau molekul asalnya.
Dalam bidang genetika kloning merupakan replikasi segmen DNA tanpa melalui proses seksual (Rekombinasi DNA). Proses ini membuka peluang baru dalam terobosan teknologi untuk mengubah fungsi dan prilaku makhluk hidup sesuai dengan keinginan dan kebutuhan manusia.

Secara teoritis prosedur dan mekanisme kloning terhadap makhluk hidup melalui empat (4) tahap yaitu isolasi fragmen DNA, penyisipan fragmen DNA ke dalam vektor, transformasi dan seleksi hasil kloning.

1) Isolasi fragmen DNA
Isolasi fragmen DNA yang spesifik dapat dilakukan dengan metode PCR (polymerase chain reaction) yaitu teknik amplikasi fragmen DNA yang spesifik secara in vitro. Secara umum DNA yang digunakan untuk PCR adalah total DNA genom yang diekstraksi dari sel dan tidak membutuhkan tingkat kemurnian tinggi. Urutan DNA yang akan diamplikasi secara spesifik akan ditentukan oleh primer-primer yang tersusun dari nukleotida.(1)

Material yang diperlukan untuk proses PCR adalah DNA yang mengandung rangkaian urutan yang akan diperbanyak (duplikasi DNA) yaitu primer, DNA polimerase dan campuran dari empat macam deoksiribonukleotida-trifosfat (dATP, dCTP, dGTP dan dTTP) serta MgCl2.

2) Penyisipan fragmen DNA ke dalam vektor
Proses penyisipan atau penyambungan molekul fragmen DNA dengan molekul DNA vektor disebut ligasi. Biasanya ligasi terjadi antara ujung gugus fosfat dengan gugus hidroksil. Ligasi antara fragmen DNA yang memiliki ujung lengket (cohesive ends) yang komplementer jauh lebih efesien dibandingkan dengan ujung tumpul (blunt ends). Efisiensi ligasi juga dipengaruhi oleh adanya deoksiadenosin tunggal pada ujung. Efisiensi ligasi dapat ditingkatkan, bila fragmen DNA yang memiliki deoksiadenosin tunggal pada ujung bertemu dengan vektor yang memiliki timidin pada ujung.

3) Transformasi DNA
Transformasi adalah proses pemindahan molekul DNA donor dari lingkungan luar sel. Vektor kloning yang merupakan pembawa gen yang akan dikloning ditransformasi ke dalam sel inang. Transformasi dapat dilakukan secara alami maupun buatan. Pada proses transformasi alami, DNA yang berbentuk untai ganda dan memiliki untaian basa spesifik terhadap protein membran masuk ke dalam bakteri melewati membran sel bakteri terhidrolisis. Pada transformasi buatan, sel bakteri dibuat menjadi sel kompeten secara paksa sehingga selubung sel bakteri bersifat permeabel dan memungkinkan DNA dapat berikatan dengan sel dan masuk ke dalam sitoplasma, kemudian berinteraksi dengan genom sel bakteri.(3)

Sel kompeten adalah sel inang yang memiliki kompetensi untuk dimasuki vektor kloning. Perlakuan untuk memasukkan sel kompeten dapat dilakukan dengan menggunakan metode kejutan panas (heat shock) atau kejutan pulsa listrik (metode electroporation).(2)

4) Seleksi hasil kloning
Penyeleksian koloni bakteri untuk mendapatkan kloning yang diinginkan dengan cara X-gal atau pemotongan dengan enzim restriksi. Seleksi dengan X-gal dapat digunakan untuk mengidentifikasi plasmid rekombinan dengan komplementasi. Sedangkan pemotongan dengan enzim restriksi dapat digunakan untuk menyeleksi plasmid rekombinan hasil kloning. Hasil pemotongan tersebut dielektroforesis dan memperlihatkan pita fragmen DNA sisipan yang terpisah dari pita vektor kloning.(4)

Dalam tataran aplikasi, rentetan proses kloning dapat dilakukan dengan mengikuti beberapa langkah berikut ini :
1. Mempersiapkan sel stem, yaitu sel awal yang akan tumbuh menjadi berbagai sel tubuh. Sel ini diperoleh dari makhluk hidup yang hendak dikloning.
2. Sel stem diambil inti selnya yang mengandung informasi genetik kemudian dipisahkan dari sel.
3. Mempersiapkan sel telur, yaitu sebuah sel yang diambil dari makhluk hidup dewasa kemudian intinya dipisahkan.
4. Inti sel dari sel stem diimplimentasikan ke sel telur.
5. Sel telur dipicu supaya terjadi pembelahan dan pertumbuhan. Setelah membelah menjadi embrio.
6. Sel embrio yang terus membelah (blastosis) mulai memisahkan diri dan siap diimplementasikan ke dalam rahim.
7. Embrio tumbuh dalam rahim menjadi janin dengan kode genetik persis sama dengan sel stem donor.(5)

Daftar Bacaan
1. Simbolon, H. Biologi Jilid 3. Jakarta, Penerbit Erlangga, 1994).
2. Sambrook dkk. Molecular Cloning: A Laboratory Manual. New York, CSHL Press, 1989).
3. Stainer dkk. The Microbial World. New Jersey, Prentice-Hall, 1986).
4. Seno D.S dan E.D. Purwakusumah. Produksi L-iisin oleh Strain Hasil Rekayasa Genetik. Laporan Penelitian pada FMIPA UI 1995 (tidak dipublikasikan).
5. Dikutip dari http://strategis.ic.gc.ca/SSG/tc00026e.html.

 
 
Copyright © Green Blue Phinisi
Theme by BloggerThemes